Darah-Nya tertanggung atas kami
Seruan dalam Injil Matius ini telah digunakan untuk menuduh orang Yahudi melakukan deisida (pembunuhan Allah); tradisi-tradisi Kristen kini membacanya sebagai suara semua orang berdosa, sementara para pembaca Yahudi menyoroti sejarahnya yang membawa dampak buruk.
Bagian Kitab Suci
Kitab Suci · Alkitab Konsensus Baru
Matius 27:24-26
24Dan Pilatus, melihat bahwa hal itu tidak menghasilkan apa-apa, melainkan bahwa huru-hara mulai timbul, mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak, katanya, "Aku tidak bersalah atas darah orang benar ini; kamu yang harus mengurusnya." 25Dan seluruh rakyat menjawab dan berkata, "Darah-Nya atas kami dan atas anak-anak kami!" 26Lalu ia membebaskan Barabas bagi mereka, tetapi setelah menyesah Yesus, ia menyerahkan-Nya agar Ia disalibkan.Pelajari Matius 27 →
Pertanyaan
Apakah ayat ini menimpakan kesalahan pada bangsa Yahudi, sebagaimana telah lama diklaim?
Latar belakang
Latar belakang sejarah
Matius 27:24-25 adalah nas yang khas pada Injil Pertama ini. Pilatus membasuh tangannya dan menyatakan dirinya tidak bersalah, lalu orang banyak itu menjawab pada ayat 25 dengan rumusan pertanggungan darah, suatu ungkapan yang juga muncul dalam Kitab Suci Ibrani ketika seseorang atau suatu kelompok menyatakan bertanggung jawab atas kematian seseorang (mis. 2 Sam. 1:16; Yos. 2:19). Dalam narasi ini, perkataan tersebut diucapkan oleh orang banyak di hadapan Pilatus.
Injil Matius umumnya diperkirakan oleh para sarjana ditulis sekitar tahun 80–90 M, setelah kehancuran Bait Suci Kedua. Banyak sejarawan memandang adegan ini sebagai bagian dari narasi teologis dan polemis Matius: sang penginjil menekankan keengganan gubernur Romawi dan menempatkan tuntutan penyaliban pada orang banyak Yahudi, yang kemungkinan mencerminkan ketegangan antara komunitas Matius dan gerakan kerabian yang sedang berkembang. Ayat ini telah dikutip selama berabad-abad untuk membenarkan tuduhan deisida.
Cara pandang berbagai tradisi
Penafsiran tiap tradisi
Katolik
Tidak ada rasa bersalah kolektif Yahudi; semua orang berdosa turut bertanggung jawab; darah Kristus membawa keselamatan.
Gereja Katolik secara resmi mengajarkan bahwa apa yang terjadi dalam sengsara Yesus tidak dapat ditimpakan secara kolektif kepada orang-orang Yahudi yang hidup pada saat itu maupun saat ini, dan bahwa semua orang berdosa adalah pelaku sengsara tersebut. Hal ini dinyatakan dalam Nostra Aetate (4) dan Katekismus Gereja Katolik (597). Darah Kristus ditafsirkan sebagai darah yang dicurahkan demi pengampunan dosa, bukan sebagai kutuk atas suatu bangsa. Pembasuhan tangan dan seruan tersebut dibaca secara liturgis sebagai bagian dari drama dosa dan penebusan, di mana Gereja memohon kepada Allah agar menanggungkan darah Kristus atas semua orang demi keselamatan.
Pandangan Katolik tentang nas lain yang diperdebatkan →Lutheran dan Reformed
Perkataan orang banyak menyuarakan rasa bersalah semua orang berdosa, termasuk setiap orang Kristen, bukan kutukan etnis.
Dalam praktik Lutheran dan Reformed, pembacaan kisah sengsara diwartakan sedemikian rupa sehingga pendengar berkata bersama orang banyak itu, 'Akulah yang telah melakukan ini.' Pembedaan Hukum Taurat/Injil dalam tradisi Lutheran menggunakan nas ini untuk mendakwa setiap orang percaya akan dosa dan menuntun mereka kepada Kristus; tradisi Reformed memandang tuntutan orang banyak itu sebagai tuntutan alami dari hati manusia yang berdosa. Pengakuan-pengakuan iman dari kedua tradisi tersebut tidak ada yang mengkhususkan bangsa Yahudi sebagai pihak yang memikul tanggung jawab tersendiri. Seruan tersebut dipahami tergenapi dalam darah pendamaian Kristus, yang menutupi rasa bersalah semua orang yang percaya kepada-Nya.
Anglikan / Episkopal
Liturgi mengajak jemaat mengucapkan kata-kata ini untuk mengakui keterlibatan universal manusia.
Banyak liturgi Anglikan pada Pekan Suci menetapkan bagian orang banyak untuk diucapkan oleh seluruh jemaat, sehingga ayat 25 tidak didengar sebagai suara kelompok etnis tertentu, melainkan sebagai suara setiap orang berdosa. Buku Doa Bersama (Book of Common Prayer) menyusun pembacaan Kisah Sengsara untuk mengundang penghayatan ini. Rowan Williams menafsirkan pembasuhan tangan Pilatus sebagai penghindaran kuasa duniawi di hadapan kebenaran ilahi, bukan sebagai pemindahan kesalahan kepada bangsa Yahudi. Tiga Puluh Sembilan Pasal Agama (Thirty-Nine Articles) menafsirkan penyaliban sebagai pemenuhan tebusan bagi dosa-dosa dunia.
Pandangan Anglikan tentang nas lain yang diperdebatkan →Yahudi
Teks ini tidak menetapkan kesalahan Yahudi dan telah digunakan untuk menyulut antisemitisme.
Pembaca Yahudi tidak memperlakukan Matius sebagai Kitab Suci. Para polemikus abad pertengahan mencatat ketidaksesuaian seperti nubuat yang keliru diatribusikan dalam ayat 9-10, dan sejarawan modern seperti Joseph Klausner dan Geza Vermes menunjukkan bahwa penyaliban adalah hukuman Romawi untuk penghasutan politik, bukan hukuman mati keagamaan Yahudi. Pengalihan kesalahan dari Pilatus kepada orang banyak Yahudi oleh sang penginjil dipahami sebagai langkah sektarian dalam konflik Yahudi-Kristen pasca-Bait Suci. Ayat 25 memiliki sejarah yang membawa malapetaka: ayat ini digunakan selama berabad-abad sebagai teks dasar bagi tuduhan deisida dan memicu kekerasan sistemik terhadap komunitas-komunitas Yahudi.
Pandangan Yahudi tentang nas lain yang diperdebatkan →Kajian historis-kritis
Ayat ini mencerminkan konteks sektarian Matius, bukan kutukan historis atas orang Yahudi.
Para sarjana mencatat bahwa pembasuhan tangan dan seruan pertanggungan darah ini hanya terdapat dalam Injil Matius. Banyak yang berpendapat bahwa sang penginjil, yang menulis setelah tahun 70 M, menyusun adegan pengadilan tersebut untuk mengalihkan tanggung jawab dari penguasa Romawi dan untuk menanggapi konflik antara komunitasnya dan Yudaisme Kerabian yang baru terbentuk. Rumusan pertanggungan darah pada ayat 25 dipandang sebagai gubahan Matius yang menggunakan ungkapan-ungkapan alkitabiah, bukan transkrip perkataan seluruh orang banyak Yahudi. Studi mendalam Raymond E. Brown tentang kisah sengsara memandang ayat-ayat ini sebagai bagian dari narasi teologis dan polemis sang penginjil.
Pandangan Akademis tentang nas lain yang diperdebatkan →Teks dan terjemahannya
Latar belakang sejarah
Tidak ada varian manuskrip penting dalam ayat 24-25. Istilah Yunani yang diterjemahkan sebagai 'orang banyak' atau 'bangsa' dalam ayat 25 adalah 'λαός', yang dalam Matius sering kali merujuk pada kerumunan orang Yahudi yang berkumpul, bukan seluruh bangsa Yahudi; cakupan dari 'tertanggung atas kami dan atas anak-anak kami' merupakan persoalan penafsiran, bukan kerusakan teks.
Titik temu
Penjelasan AI
Tradisi-tradisi Kristen yang menerima Matius sebagai Kitab Suci sepakat bahwa ayat 25 bukanlah pembenaran bagi antisemitisme dan tidak mengkhususkan orang Yahudi masa kini untuk dihukum. Mereka juga sepakat bahwa nas ini menggambarkan pemindahan tanggung jawab dan bahwa darah Kristus adalah pusat keselamatan. Para pembaca Yahudi dan historis-kritis sepakat bahwa penggunaan ayat ini secara historis telah membawa dampak buruk dan bahwa konteks aslinya adalah konflik internal Yahudi.
Mengapa hal ini penting
Penjelasan AI
Bagaimana ayat ini dibaca membentuk khotbah Pekan Suci dan pemeriksaan batin orang Kristen: apakah seruan ini didengar sebagai dosa diri sendiri atau sebagai kutukan bagi kelompok lain. Hal ini membawa dampak langsung bagi hubungan Yahudi-Kristen, karena salah baca terhadap teks ini pernah digunakan untuk membenarkan tuduhan deisida, pengusiran, dan kekerasan. Bagi umat Katolik dan banyak gereja Protestan, menolak rasa bersalah kolektif Yahudi kini menjadi bagian dari ajaran resmi dan praktik liturgis. Pembacaan historis dan Yahudi menekankan perlunya membaca perikop ini dalam konteks abad pertama.
Pertanyaan yang sering diajukan
Penjelasan AI
Apakah Matius 27:24-26 menimpakan kesalahan kepada seluruh bangsa Yahudi?
Istilah Yunani λαός dalam Matius 27:25 biasanya menunjuk pada kerumunan orang Yahudi yang berkumpul saat itu, bukan seluruh bangsa Yahudi sepanjang sejarah. Gereja Katolik secara resmi menolak gagasan rasa bersalah kolektif Yahudi, dan tradisi Lutheran, Reformed, serta Anglikan membaca seruan itu sebagai pengakuan dosa semua orang berdosa. Para pembaca Yahudi dan sarjana historis-kritis menekankan bahwa ayat ini mencerminkan konflik internal Yahudi abad pertama.
Bagaimana tradisi Kristen yang berbeda menafsirkan seruan 'darah-Nya tertanggung atas kami'?
Katolik membacanya sebagai darah Kristus yang dicurahkan demi pengampunan dosa, bukan kutuk atas suatu bangsa. Lutheran, Reformed, dan Anglikan menempatkan kata-kata orang banyak itu di mulut seluruh jemaat, sehingga ayat ini didengar sebagai pengakuan atas keterlibatan setiap orang berdosa dalam sengsara Yesus. Tidak ada tradisi ini yang mengkhususkan orang Yahudi sebagai pihak yang memikul tanggung jawab tersendiri.
Mengapa Matius 27:25 pernah digunakan untuk membenarkan antisemitisme?
Ayat ini dikutip selama berabad-abad sebagai dasar tuduhan deisida, yaitu pembunuhan Allah, dan ikut memicu pengusiran serta kekerasan terhadap komunitas Yahudi. Para sarjana memandang adegan pembasuhan tangan Pilatus dan seruan orang banyak sebagai gubahan teologis Matius setelah tahun 70 M, bukan transkrip peristiwa pengadilan. Karena itu banyak gereja kini menolak pembacaan yang menimpakan kesalahan pada orang Yahudi.
Dalam konteks apa Matius 27:24-26 ditulis?
Injil Matius umumnya diperkirakan ditulis sekitar tahun 80–90 M, setelah kehancuran Bait Suci Kedua, ketika komunitas Matius berada dalam ketegangan dengan Yudaisme Kerabian yang sedang berkembang. Ungkapan pertanggungan darah juga muncul dalam Kitab Suci Ibrani untuk menyatakan tanggung jawab atas kematian seseorang, misalnya 2 Sam. 1:16 dan Yos. 2:19. Tidak ada varian manuskrip penting dalam ayat-ayat ini; yang diperdebatkan adalah penafsiran cakupannya, bukan teksnya.
Nas terkait yang diperdebatkan
- Petrus dan batu karang
Apakah Petrus sendiri adalah batu karang tempat gereja dibangun, dan apakah hal ini memberikan jabatan kepausan yang unik, telah memecah belah orang Kristen selama berabad-abad dan terus membentuk pemahaman tentang otoritas gereja.
- Inilah tubuh-Ku
Perkataan penetapan dan wacana Roti Hidup dalam Injil Yohanes dipahami oleh berbagai tradisi Kristen sebagai kehadiran harfiah, santapan rohani, atau simbol peringatan, yang membentuk ibadah dan doktrin.
- Bukan damai melainkan pedang
Maksud Yesus ketika mengatakan Ia datang untuk membawa pedang telah memicu perbedaan pandangan di kalangan pembaca mengenai apakah itu merupakan panggilan menuju perpecahan, penderitaan, atau hal lainnya.
- Perceraian dan klausa perkecualian
Umat Kristen berbeda pandangan mengenai makna perkecualian yang Yesus berikan terkait percabulan serta apa yang diizinkannya setelah perceraian. Perdebatan ini membentuk disiplin gereja, reksa pastoral, dan praktik sakramental.
Kutipan Kitab Suci diambil dari Alkitab Konsensus Baru, sebuah terjemahan berbasis AI. Artikel ini dibuat oleh AI dari catatan proyek ini tentang cara setiap tradisi memahami bagian-bagian tersebut; artikel ini memaparkan posisi masing-masing dan tidak memihak.